PRO- T- IN ISLAM

KOMUNITAS PARA PEMBELA TAUHID

Senin, 09 Juli 2012

GHUROBA 2

Coba kalian perhatikan dua hakikat yang saling kontradiktif ini, lembaran ahli dunia dan ahli akherat:

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّه,ِ أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ

"Beruntunglah seorang hamba, yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, kusut masai rambutnya, berdebu kedua belah kakinya. Jika ia berada dalam penjagaan, maka ia tetap dalam penjagaan dan jika ia berada di barisan belakang, maka ia tetap berada di barisan belakang". (HR. Al Bukhari)
Yakni, ia tidak memandang posisinya (tinggi ataukah rendah). Jika diberi tugas berjaga, maka ia akan menetapi tugasnya berjaga. Jika ia diberi tugas memberi minum kepada Mujahidin, maka ia akan setia menjalankan tugasnya…..Dunia sudah tidak lagi terbayang di hadapan kedua matanya. Kendati seperti apapun kedudukannya di dalam berjihad, ia tetap menjalankan peranannya, menetapi posnya, dan tidak meninggalkan tempat duduknya.
Dalam riwayat lain disebutkan, bahwasanya Rasulullah n bersabda:

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ أَشْعَثَ رَأْسُهُ إِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ فَهُوَ فِي السَّاقَةِ إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ فَهُوَ فِي الْحِرَاسَةِ وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ وَإِنْ اِسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ طُوْبَى لَهُ ثُمَّ طُوْبَ لَهُ 

"Beruntunglah seorang hamba yang memegang kendali kudanya, berdebu kedua belah kakinya, kusut masai rambutnya. Jika ia di barisan belakang, maka ia tetap berada di barisan belakang. Jika ia berjaga, maka ia tetap dalam penjagaannya. Jika ia meminta tolong (kepada orang lain), maka permintaannya ditolak. Jika ia meminta izin ia tidak diberi izin. Keberuntungan untuknya, kemudian keberuntungan untuknya".
Kemudian dalam riwayat yang lain, sedang riwayat tersebut adalah shahih.Yakni riwayat dari Al Hakim yang disepakati keshahihannya oleh Adz-Dzahabi, Rasulullah n bersabda:


"Sebaik-baik kehidupan manusia adalah seseorang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Yang akan melompat ke punggung kudanya setiap mendengar suara yang menakutkan (dari musuh) atau suara hiruk pikuk, maka dengan cepat ia mengejarnya, menginginkan terbunuh dan mencari kematian di tempat yang menjadi persangkaannya". 

Mereka, orang-orang yang asing itu keadaannya berkebalikan dengan ahli dunia.
Oleh karenanya, Rasulullah pernah menunjukkan nilai dunia kepada para shahabatnya, tatkala beliau mengangkat bangkai anak kambing. Kemudian beliau bertanya: "Siapa dari kalian yang sudi membeli bangkai ini dengan 1 Dirham?"
"Tak seorangpun, ya Rasulullah". Jawab mereka. 
Beliau kemudian bersabda: "Sungguh, dunia itu lebih hina dalam pandangan Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian".
Sungguh dunia itu lebih hina dalam pandangan Allah daripada nilai bangkai itu dalam pandangan manusia,……ingatlah bahwa:
"Tempat cambuk salah seorang di antara kalian di dalam Jannah adalah lebih baik daripada dunia dan apa saja yang ada di atas permukaannya".

Kita adalah ghuraba’

Kita adalah ghuraba'……kita melangkah, menguak jalan menuju negeri kita. Mudah-mudahan Allah menyampaikan kita kepada apa yang kita tuju. Dan saya memohon kepada Allah semoga Dia berkenan menerima amal kita. Kita adalah ghuraba' yang berhijrah ke negeri ini.

//Mari kita menuju surga 'Adn, karena sesungguhnya ia adalah tempat-tempat kediamanmu yang pertama, dan di sanalah tempat bermukim kita.
Namun musuh telah merampas (negeri kita), apakah kamu berfikir
Kita kembali ke negeri kita dan menyerah pasrah?
Hei kau yang menjual negerimu dengan harta murah
Seolah-olah engkau tak tahu dan tidak mengerti.
Jika kau tak tahu, maka itu adalah musibah
Jika kau tahu, maka itu lebih musibah//

Wahai orang-orang asing…….
Wahai orang-orang yang terasing dari kaumnya…….
Wahai orang-orang yang dikecam dan dijelek-jelekkan oleh kaumnya karena kebodohan, kedangkalan, dan kegabahan mereka…..
Bergembiralah kalian dengan kabar gembira yang datangnya dari Rabbul 'Izzati……Bergembiralah kalian dengan kabar gembira yang datangnya dari Rasulullah n…….

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ {10} تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ {11} يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {12} وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرُُ مِّنَ اللهِ وَفَتْحُُ قَرِيبُُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ {13}

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih?.(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman”. (QS. Ash Shaff: 10-13)
Ini adalah kabar gembira dari Rabbul 'Izzati untuk kalian. Dan Rasulullah n memberikan kabar gembira untuk kalian dengan sabdanya : "Thuuba lil ghuraba’ (Surga untuk orang-orang asing)". Beliau memberikan kabar gembira kepada kalian dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

مَنِ اغْبَرَّتْ قَدَمَا عَبْدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَنِ النَّارِ 

"Tiada berdebu kedua kaki seorang hamba fie sabilillah (di jalan Allah), melainkan Allah akan mengharamkan Neraka daripadanya". (HR. Ahmad)

Kata "fie sabilillah" di sini maksudnya adalah jihad.

مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَوَاقَ نَاقَةٍ, فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ 

"Barangsiapa yang berperang di jalan Allah selama waktu orang memerah susu onta, maka wajib baginya mendapatkan Jannah".6

Selama waktu memerah susu onta, yakni kira-kira 3 atau 4 jam. 
Dalam hadits hasan:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ رَوَاحَةَ فِي سَرِيَّةٍ فَوَافَقَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَغَدَا أَصْحَابُهُ فَقَالَ أَتَخَلَّفُ فَأُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ أَلْحَقُهُمْ فَلَمَّا صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَآهُ فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَغْدُوَ مَعَ أَصْحَابِكَ فَقَالَ أَرَدْتُ أَنْ أُصَلِّيَ مَعَكَ ثُمَّ أَلْحَقَهُمْ قَالَ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَدْرَكْتَ فَضْلَ غَدْوَتِهِمْ 

"Dari Ibnu Abbas radliyallohu ‘anhu berkata: "Nabi mengutus Abdullah ibnu Rawahah dalam suatu sariyyah, yang bertepatan pada hari Jum'at. Maka kawan-kawannya segera berangkat pagi-pagi, berkata Abdullah: 'Aku akan menyusul nanti setelah ikut shalat Jum'at bersama Rasulullah’. Ketika dia shalat bersama Rasulullah, beliau melihatnya, maka beliau bertanya: "Apa yang menghalangi kamu untuk berangkat pagi-pagi bersama kawan-kawanmu?" Jawabnya: 'Aku ingin shalat Jum'at bersama tuan, baru menyusul mereka!'. Sabda beliau: "Seandainya engkau menginfakkan seluruh apa yang ada di bumi, maka engkau tidak akan bisa menyamai pahala ghadwah mereka!"

Ghadwah artinya : berangkat berperang di pagi hari.
Inilah dunia!. Betapa sangat tiada berartinya, dan betapa sangat meruginya, jika engkau berniaga dengan dunia. Semuanya tak bisa menyamai pahala ghadwah fie sabilillah, tak bisa menyamai pahala 2 rakaat shalat dalam jihad. Sekiranya seluruh isi dunia dikumpulkan, maka semuanya itu tidak akan bisa menyamai pahala rauhah fei sabilillah (artinya : berangkat berperang di sore hari)
Lalu siapa sebenarnya mereka yang gila?! Siapa yang dungu! Dan siapa yang pandir?! Apakah mereka yang pergi berperang di jalan Allah, bersungguh-sungguh dalam menempuh perjalanan menuju Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Pengampun lagi Maha Pengasih di atas jalan keselamatan menuju Darussalam (surga).

وَاللهُ يَدْعُوْاإِلَى دَارِ السَّلاَمِ ...........

"Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga)". (QS.Yunus: 25)
Bersabar dalam menghadapi cobaan, menghadapi kesepian dari handai tolan, jauh dari orang-orang yang dicintai, dan terasing dari karib kerabat!! Ataukah mereka yang senang dengan kehidupan dunia yang membinasakan?!!!
Tiadalah dunia ini melainkan hanya seperti air laut yang asin. Manakala orang yang haus meminum untuk menghilangkan dahaga dan rasa hausnya, maka akan semakin menambah rasa hausnya.
Jadi siapa sebenarnya mereka yang lalai itu? Siapakah mereka yang menjadi budak nafsu? Siapakah mereka yang tidak memiliki perhitungan? Apakah mereka yang menikmati kesenangan sesaat untuk disiksa pada hari kiamat, ataukah mereka yang bercapek-capek sesaat untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akherat di sisi Raja Diraja Yang Maha Berkuasa?!
فِيْ مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُّقْتَدِرٍ

"Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa". (QS. Al Qamar: 55)

Wahai saudara-saudaraku! 
Pemahaman telah terbalik, timbangan telah berubah. Orang yang datang berjihad untuk membela Dienullah, atau menentang penguasa thaghut, atau memerintah yang ma'ruf, melarang yang munkar dan menghadapi berbagai cobaan; maka orang-orang menuduhnya kurang akal dan sentimental (peka perasaan). "Perasaan" (rasa peka) menjadi sesuatu yang tercela. Mereka menuduhnya dengan panggilan "Yang baik hati". "Baik hati" itu menjadi sesuatu aib dalam pandangan orang. Jika mereka mau mencelanya, atau hendak menuduhnya pandir atau dungu, maka mereka mengatakan "Si Fulan baik hatinya".
Lalu siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang busuk hatinya, pencela lagi pendengki.
Adakah "baik hati" itu telah menjadi perkara yang tecela? Apakah perasaan (rasa peka) itu yang membuat Allah menolong Dien-Nya? Karenanyalah, maka kaum muslimin generasi pertama berangkat berperang di atas ringkikan kuda-kuda mereka untuk menyelamatkan kemanusiaan. Adakah mereka itu berangkat berperang karena akal fikiran mereka, pertimbangan mereka, dan kebijaksanaan mereka? Dimana orang-orang bijak dan cendekia mengklaim bahwa merekalah pemilik akal fikiran, pertimbangan dan kebijaksanaan. Ataukah "Perasaan" itu justru yang menggerakkan mereka? Jika bukan, kusumpahi kalian atas nama Allah, akal fikiran macam apa sehingga membuat Abu Bakar mengirim 7.000 orang pasukan untuk menghadapi gelombang pasukan Persia yang tak terkira banyaknya, terputus dari bantuan, terputus dari basis, terputus dari qiyadah. Dan ia mengirim 7.000 orang pasukan atau 10.000 orang pasukan ke negeri Syam untuk menghadapi gelombang pasukan Romawi yang tak terbilang jumlahnya.
Tindakan ini dalam pandangan para cendekia dan para ahli militer dapat dianggap sebagai bunuh diri (tindakan konyol). Akan tetapi itu semua adalah karena "Rasa peka" tadi. Rasa peka yang terbangun di atas landasan tawakkal kepada Allah. Rasa peka yang menggelegakkan darah mereka menjadi api. Rasa peka yang merubah hati mereka menjadi bara. Tidak akan tenang sampai bisa menyelamatkan anak manusia. Tidak akan tentram sampai mereka bisa membebaskan manusia dari api neraka. Sesungguhnya itulah tugas mereka.
Mereka diciptakan untuk menolong Dienullah. Mereka datang dalam kehidupan dunia adalah untuk menyampaikan risalah. Lantas, apa yang telah disampaikan oleh para cendekia dengan akal fikiran mereka yang beku? Apa yang telah dikerjakan oleh para bijak dengan hikmah mereka yang terbalik itu? Apakah mereka dapat mempengaruhi orang-orang yang berada di sekitar mereka? Apakah mereka mampu membina masyarakat dalam kehidupan nyata mereka dan di bumi mereka?
Coba tunjukkan pada saya siapa di antara mereka yang berhasil melakukan perubahan? Sesungguhnya mereka yang dapat merubah keadaan adalah mereka yang memiliki "Perasaan". Mereka adalah figur-figur percontohan. Sesungguhnya jari telunjuk Bilal yang teracung ke atas langit disertai ucapan "Ahad, Ahad", bukanlah suara yang keluar dari akal fikiran, bukan suara yang berasal dari hikmah, akan tetapi ia adalah suara yang bersumber dari "Perasaan", dari hati nurani. Sesungguhnya akal fikiran mendorongnya untuk menyerah pasrah dan berkompromi, akal fikiran menyuruhnya untuk mempedaya Abu Jahal dan mempedaya Umayyah bin Khalaf, akan tetapi jiwa yang ada di dalam dadanya menggerakkan telunjuk jarinya untuk menentang seluruh dunia.
"Rasa peka/perasaan" yang merubah darah menjadi api itulah yang menggerakkan telunjuk jari Bilal dan membuat ia menyerukan ucapan "Ahad, Ahad". Ketika ia ditanya: "Apa yang membuatmu mengucapkan "Ahad, Ahad"? Maka ia menjawab: "Sekiranya aku tahu ada kata-kata yang membuat marah mereka, pasti kuucapkan. Namun aku mengetahui betul bahwa ucapan itu akan membuat mereka marah”.
Siapakah mereka yang mampu merubah? Akademi-akademi keilmuankah? Perpustakaan-perpustakaankah? Atau ilmuwan-ilmuwan yang menulis di atas meja-meja mereka?
Rak-rak perpustakaan telah penuh dengan buku-buku. Namun kita hanya menghendaki satu buku yang berjalan di atas bumi. Percetakan-percetakan telah sarat dengan mush-haf cetakan. Namun kita hanya memerlukan satu mush-haf yang berjalan di muka bumi. Sesungguhnya mush-haf-mush-haf yang berjalan di atas bumi dalam wujud daging dan darah itulah yang berhasil merubah generasi. Merekalah yang mendorong manusia. Merekalah yang membimbing manusia. Merekalah yang berhasil merubah situasi.
Jari telunjuk Sayyid Quthb menuding ke arah penguasa Mesir ketika mereka mambujuknya supaya mau menerima jabatan pada satu kementrian. Dan ia berkata: "Sesungguhnya jari telunjuk yang teracung mempersaksikan keesaan Allah di dalam shalat ini menolak menulis satu hurufpun untuk mengakui hukum thaghut!"……Inilah contoh!........Sesungguhnya Sayyid Quthb telah melakukan perbuatan besar secara sendirian, hal mana belum pernah dilakukan oleh ulama-ulama Al Azhar selama seratus tahun…….Mengapa demikian?.....Suara "perasaan" itulah yang mendorongnya, suara "jiwa" itulah yang mendorongnya……
Sebagaimana apa yang ia katakan dalam bukunya: "Bagaimana mungkin hati yang telah diliputi cahaya iman dapat diam dan tenang, sementara ia melihat jahiliyah bertengger di atas kepalanya?!.......Bagaimana bisa tenang, tanpa berbuat sesuatu untuk merubah keadaan…….”.
Sesungguhnya "perasaan" adalah yang berperan pertama kali, sebagaimana kata Malik bin Nabi pada masa permulaan dakwah Islam. Kemudian setelah dakwah mencapai kemenangan, dan prinsip-prinsip Islam menjadi tinggi dengan pengorbanan hati nurani dan jiwa, baru tiba peranan akal untuk melakukan penemuan-penemuan ilmiyah dan menciptakan peradaban. Akal tidak mendahului jiwa dalam penyebaran suatu dakwah melainkan ia akan mati dalam masa kelahirannya dan terkubur di dalam bumi serta tidak akan pernah berpindah dari tempat-tempat jasadnya.
Berdasarkan kenyataan di atas, maka kita temui bahwa prinsip-prinsip yang diperjuangkan di bumi bisa menang, pada waktu ditemukan pengikut-pengikut yang siap berkorban untuk membelanya dan berperang di jalannya. Salah seorang Mujahidin Afghanistan menceritakan pada saya tentang seorang komunis, katanya: "Ucapkanlah Asyhadu an laa ilaaha illallah". Namun ia menjawab dengan sikap menantang: "Saya mengucapkan "Asyhadu an laa ilaaha illallah?! Ketahuilah saya telah memotong lidah para ulama karena mereka mengucapkan "Laa ilaaha illallah." Saya telah merobek mulut pengikut ajaran tauhid karena mereka mengucapkan "Laa ilaaha illallah". Lantas apakah kalian menghendaki saya mengucapkan "Laa ilaaha illallah?!".
Akhirnya dibunuhlah orang komunis itu karena menolak taslim (masuk Islam), sedang ia tetap bersikukuh mempertahankan prinsipnya. Bukankah kita yang lebih layak untuk menantang jahiliyah dengan Dien kita…..dan merasa bangga dengan prinsip-prinsip kita?!.
Inilah Abu Jahal. Sebelum ia menarik nafasnya yang penghabisan pada Perang Badar, ia tersadar dari sekaratnya dan membuka kedua mata. Ia melihat 'Abdullah bin Mas'ud berjongkok di atas dadanya. 
Ia menanyakan : “Kemenangan dipihak siapa di hari itu?” 
'Abdullah bin Mas'ud menjawab: "Allah dan Rasul-Nya". 
Mendengar jawaban itu Abu Jahal berujar : "Huh!!"
Sampai detik akhir kehidupannya…..ia tetap menentang dan bersikukuh dalam kekufurannya……Bukankah kita lebih pantas bersikukuh mempertahankan keyakinan kita daripada mereka?! Kita tidak memperlihatkan sikap rendah dalam Dien kita?!.Kita tidak hidup tertindas di muka bumi?!

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُوْلاَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَآءَتْ مَصِيرًا 

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) dikatakan: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu bisa berhijrah ke sana?". Mereka itu tempatnya adalah Neraka Jahannam. Dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali". (QS. An-Nisa': 97)
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang beriman yang tinggal di Makkah yang tidak mau ikut berhijrah ke Madinah. Kemudian orang-orang tersebut tewas terbunuh dalam Perang Badr, di pihak pasukan Abu Jahal, (Mereka itu tempatnya adalah Neraka Jahannam)
Seandainya keterangan di atas bukan dari riwayat Al Bukhari, maka saya tidak akan percaya. (Kecuali orang-orang yang tertindas dari kaum lelaki, wanita dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya): yakni tidak mampu duduk di atas punggung kendaraan dengan baik. (dan tidak mengetahui jalan), yakni : tidak mengetahui jalan menuju Madinah. ( Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema'afkannya. Dan Allah adalah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun). Mereka yang tersebut di atas itu, mudah-mudahan dima'afkan Allah.
Namun bagaimana halnya dengan bangsa-bangsa muslim yang tertindas sekarang ini?.......Bagaimana halnya dengan bangsa muslim yang setiap harinya kematian 100 orang? Padahal kematian itu hanya sekali saja, maka mengapa tidak memilih kematian di jalan Allah? Mengapa mereka membayar pajak kehinaan setiap harinya jauh berlipat ganda daripada pajak kemuliaan, sekiranya mereka hendak membayarnya?
Sesungguhnya Dien ini membutuhkan ghuraba'. Membutuhkan orang-orang yang taqwa, shaleh dan tidak menonjolkan diri. Seperti mujahidin-mujahidin Afghan yang berkorban jiwa dan raga untuk mempertahankan keyakinannya. Pengorbanan jiwa dan raga mereka tiadalah hilang percuma. Ia akan menjadi simpati yang berharga bagi tarbiyah generasi Islam sesudahnya. Dan ia menjadi tembok yang membendung gelombang kekufuran. Andaikan tembok itu runtuh, maka kekufuran dan atheisme akan melanda dan menenggelamkan dunia Arab dengan badai kerusakan.
Mereka adalah kaum Ghuraba':

“Beruntunglah seorang hamba, yang, memegang kendali kudanya, berdebu kedua belah kakinya, kusut masai rambutnya. Jika ia berada di barisan belakang, maka ia tetap berada di barisan belakang. Jika ia berjaga, maka ia tetap dalam penjagaan.Apabila dia meminta tolong, permintaantolongnya ditolak dan apabila ia meminta izin, maka tidak diberi izin. Kebahagiaan untuknya, , kemudian kebahagiaan untuknya".

Berapa banyak mujahid yang menemui kesyahidannya setiap hari di Afghanistan?
Meninggalkan isteri-isteri mereka menjadi janda, meninggalkan anak-anak mereka menjadi yatim. Meninggalkan anak-anak dan isteri-isteri mereka selama bertahun-tahun tanpa bisa memberikan uang 1 Dirhampun, namun mereka mengetahui jalan. Mereka itulah orang-orang yang pandai (berakal). Mereka adalah Ghuraba'. Mencari kematian di tempat yang menjadi persangkaan mereka akan mati.
Dan tinggalkanlah mereka-mereka yang hidup dalam dunia, menjadi budak-budak nafsu; takluk di hadapan kenikmatan yang menipu. Mereka tidak mendapatkan kenikmatan dalam kemuliaan, dan tidak mengecap yang namanya kehormatan. Bahkan mereka tidak merasa nyaman bila ada orang yang menyerukan kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka tidak merasa nyaman apabila kaum muslimin berjihad…….
"Bagaimana kalian, jika melihat yang ma'ruf nampak mungkar, dan mungkar nampak ma'ruf? "Para shahabat bertanya: "Apakah itu akan terjadi? "Beliau menjawab: "Ya."
Mereka adalah Ghuraba'……

"Berapa banyak orang yang kusut masai rambutnya, berdebu wajahnya, memakai dua kain yang lusuh serta tidak dihiraukan manusia, namun jika ia telah bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya".
Jika ia telah bersumpah atas nama Allah: Jika ia menengadah ke langit seraya berkata: "Aku bersumpah kepada engkau, Ya Allah, untuk menurunkan hujan", maka hujanpun turun dari langit.
Dzun Nun Al Mishri pernah bercerita: "Pernah saya menumpang suatu kapal. Lalu ada sesuatu yang hilang dalam kapal tersebut. Maka seluruh pandangan mengarah kepada seorang lelaki. Sayapun berkata kepadanya: "Kelihatannya orang-orang mencurigai anda". 
"Mengapa saya? Mengapa begitu?”, tanyanya.
Saya menjawab: "Mereka kehilangan sebutir permata dan mereka menyangka andalah yang mengambilnya”.
Maka menengadahlah orang tersebut ke langit seraya berdo'a: "Aku bersumpah kepada Engkau Ya Allah, untuk mengeluarkan ikan-ikan di laut membawa permata dan mutiaranya”.
Mendadak muculah ikan-ikan dari segenap arah ke kapal kami dan melemparkan butir-butir permata serta mutiara ke dalam kapal……”

"Berapa banyak orang yang kusut masai rambutnya, berdebu wajahnya, memakai dua kain yang lusuh serta tidak dihiraukan manusia, namun jika ia telah bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya”.

Mereka adalah orang-orang yang berbaju lusuh…..Orang-orang yang kakinya telanjang tak bersepatu…..Orang-orang yang perutnya kosong…, namun mereka adalah orang-orang yang manjur do'a mereka……Dengan do'a mereka, langit bisa menurunkan hujan. Mereka adalah orang-orang yang dapat dimintai tolong lewat do'a-do'anya……Mereka adalah orang-orang yang memimpin anak manusia dengan sebenarnya di dunia dan di akherat. Bukannya orang-orang yang dibunuh sendiri oleh isi perutnya. Orang-orang yang bergelimang dalam berbagai jenis makanan, dan berbagai macam kesenangan nafsu duniawi, sehinggga mereka tak lagi merasakan lezatnya makanan ataupun menikmati kenyamanan dalam tidurnya, lantaran banyak tidur, banyak makan, banyak bersenang-senang. Sebagaimana yang menimpa Imperium Romawi di akhir masa kekuasaannya. Karena parahnya mereka tenggelam dalam lautan nafsu, menyebabkan mereka harus berpuasa dahulu untuk dapat mengecap nikmatnya makanan. Mereka harus menjauhkan diri dari wanita dulu dalam waktu lama, agar dapat merasakan nikmatnya berhubungan seksual. Akhirnya runtuhnya Imperium Romawi, yang dibangun 1000 tahun, hanya karena serangan yang tak begitu berarti dari Kabilah Hon dan Wontal.
Kita hidup dalam masa-masa transisi, dimana kenikmatan membinasakan bangsa-bangsa, menghilangkan kecerdasan, membalikkan timbangan, dan merubah fikiran dalam meyakini prinsip-prinsip dan nilai-nilai Dien..

Wallohu Ta’ala A’lam Bishshowab
Asy Syahid Syaikh Abdulloh ‘Azzam rohimahulloh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar