PRO- T- IN ISLAM

KOMUNITAS PARA PEMBELA TAUHID

Senin, 09 Juli 2012

Hukum Menentang Syari'at

Hukum Menentang Syari’at Allah

Pertanyaan : Seseorang berkata: Sesungguhnya sebagian syari’at perlu ditinjau ulang. Sesungguhnya ia perlu perubahan karena sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang. Contohnya pembagian harta warisan untuk laki-laki sama dengan dua bagian wanita, apakah hukumnya orang yang mengatakan seperti ini?

Jawaban : Hukum-hukum yang disyari’atkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala untuk hamba-hamba –Nya dan Dia telah menjelaskan di dalam Kitab -Nya, atau lewat lisan Rasul -Nya yang sangat dipercaya, seperti hukum warisan, shalat lima waktu, zakat, puasa dan semisalnya yang dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala untuk hamba-hamba -Nya dan umat ijma’ atasnya, tidak boleh bagi seseorang menentangnya dan tidak pula merubahnya karena ia adalah syari’at yang kokoh untuk umat di zaman Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dan generasi sesudahnya hingga akhir zaman.
Termasuk di antaranya melebihkan anak laki-laki terhadap anak perempuan, anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu dari anak laki-laki) dan saudara kandung dan sebapak (beda ibu). Karena Allah Shubhanahu wa ta’ala telah menjelaskan di dalam kitab-Nya yang mulia dan ulama umat Islam telah ijma’ atasnya. Maka wajib mengamalkannya berdasarkan keyakinan dan iman.
Dan barangsiapa yang mengira bahwa yang terbaik adalah sebaliknya maka ia kafir. Seperti ini pula seseorang yang membolehkan menyalahinya maka dipandang kafir, karena ia menentang Allah Shubhanahu wa ta’ala dan rasul -Nya serta terhadap ijma’ ummat. Pemerintah (Maksudnya Pemerintah Islam yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah -ed) harus menyuruh ia bertaubat jika ia seorang muslim. Jika ia bertaubat (maka diterima), dan jika tidak mau bertaubat, niscaya wajib dibunuh karena ia menjadi kafir lagi murtad, keluar dari Islam, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallhu’alihi wa salam :
Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia.” (HR. al-Bukhari 3017 dan 6922)
Kita memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala untuk kita dan semua kaum muslimin keselamatan dari kesesatan fitnah dan dari menyalahi syari’at yang suci.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz – Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah 2/415.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar