PRO- T- IN ISLAM

KOMUNITAS PARA PEMBELA TAUHID

Senin, 09 Juli 2012

Jama’ah Pencela dan Penerapan Hukum atas Mereka (Bagian 2)

HUKUMAN BAGI PARA PENCELA

Maka terhadap ikhwan-ikhwan yang terus berprofesi sebagai pencela, kita wajib menasehati mereka dan kemudian menegakkan hukum syar'i atas mereka, sebagaimana pesan Syeikh Abu Abdillah Usamah bin Ladin:

Mereka itu ibarat rel kereta api, paling depan adalah kereta para penguasa dan belakangnya kereta para qiyadah shoff kedua dan orang-orang dekatnya. Kedua kereta itu mogok sejak puluhan tahun yang lalu pada jalan pembebasan Palestina. Maka tidak ada cara lain untuk membebaskan Al Aqsha selain dengan menyingkirkan kedua kereta tersebut dan menyalipnya.

Namun hal itu sangat sulit dilakukan sebelum banyak kaum muslimin yang sadar, kemudian mereka melepaskan ta’ashub yang tercela terhadap negeri dan tokoh, baik penguasa, ulama’ maupun para Qiyadah Jamaah Islamiyah, lalu mereka tidak menolak nasehat yang selanjutkan ditegakkan hukum yang benar atas diri mereka.

Jika mereka tidak lakukan hal ini maka seolah mereka mengatakan: Sesungguhnya mereka itu berjalan di atas jalan yang telah ditempuh orang-orang sebelum kita. Oleh karena itu umat Islam terjebak dalam gelapnya padang ketidak jelasan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan nampaknya mereka tidak memahami sabda Rasulullah SAW:

Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri pasti kupotong tangannya. (Muttafaq ‘Alaih)

Allah berfirman tentang para pencela dalam surah at-taubah:

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah membenci keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu".

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

Benar, hukum dan tindakan harus ditegakkan atas mereka para pencela dan jama'ah mukhodzilah, yaitu:

Pertama : Hijrah meninggalkan mereka, hingga mereka kapok

Tinggalkan taklim-taklim halaqah mereka, tinggalkan kegiatan-kegiatan mereka, tinggalkan liqo-liqo mereka, tinggalkan yayasan-yayasan mereka, tinggalkan tugas-tugas dari mereka, tinggalkan segala aktivitas yang dapat membantu memperkuat mereka, sekalipun mereka menyatakan; ini adalah kegiatan untuk i'dad, tarbiyah wa dakwah, bangkuat (pembangunan kekuatan) dan binkuat (pembinaan kekuatan). Itu semua hanya cover untuk mengecoh para muwahidin. Katakan kepada mereka, “Antum adalah pencela, bertaubatlah”, semoga mereka sadar dan kembali kepada pemahaman Islam yang benar.

Memang kadang bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tubuh. Lisannya mengatakan mendukung dakwah tauhid, akan tetapi bahasa tubuhnya menyelisihi. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencela dan memojokkan para mujahidin dan para da’i tauhid. Bahasa lisannya mengatakan cinta dan mendukung mujahidin, akan tetapi bahasa tubuhnya menampakkan kebencian dan celaan. Wal ‘iyadzu billah. (Asy-Syahid Urwah rahimahullah)

Jika kita, hamba Allah yang ingin bergabung dengan thaifah manshuroh bersikap lunak, tidak tegas menerapkan hukuman ini, maka kaum muslimin akan terkecoh atas dakwah para pencela ini. Kaum muslimin tidak akan mengetahui mana yang haq dan mana yang sesat, mana mujahidin dan mana pencela, mana jama'ah jihad, mana jama'ah 'pencela' jihad dan mana jama'ah jahat. Namun jika kita tegas menerapkan hukum ini dan menyisihkan “perasaan gak enak” kita, maka thaifah manshuroh akan dhohir (tampak jelas keberadaannya).

Akan terpecah dua kubu, kubu thaifah manshuroh dan kubu thaifah mukhodzilah, masing-masing thaifah akan tampak jelas benderanya. Ummatpun akan mudah membedakan dan memilih antara hitam dan abu-abu, antara yang asli atau palsu.

Hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah/tampaklah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (At-Taubah; 46)

Seandainya para qiyadah adalah pencela, pasti kutinggalkan mereka...
Seandainya para mantan instruktur militer adalah pencela, pasti kutinggalkan mereka...
Seandainya halaqah taklim milik para pencela, pasti kutinggalkan mereka...
Seandainya ada camp militer milik pencela, pasti kutinggalkan mereka...
Seandainya ada program i'dad milik pencela, pasti kutinggalkan mereka...
Seandainya para ustadz adalah pencela, pasti kutinggalkan mereka...
Seandainya ikhwan-ikhwanku adalah pencela, pasti kutinggalkan mereka...
Seandainya murid-muridku adalah pencela, pasti kutinggalkan mereka...

Sekalipun mereka alumni Afghan, Poso, Ambon, Hudaybiyah, Aceh, Cipinang...

Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri pasti kupotong tangannya. (Muttafaq ‘Alaih)

Renungkan nasehat Syeikh Usamah hafizhahullah untuk menggunakan akal kita dan jangan menjadi beo:

“Hendaknya setiap mujahid itu merenung dan menggunakan akalnya, jangan malah mengebirinya. Hendaknya ia bisa bedakan antara husnudzon terhadap Qiyadah (pimpinan) dengan bersikap cermat, menimbang segala sesuatu dan semua orang berdasarkan timbangan Islam. Jangan sampai ia membeo saja, mengikuti Qiyadah tanpa mengerti.”

Ana nasehatkan pula kepada ikhwan-ikhwan yang telah memahami perkara ini, namun tetap bertahan bersama kelompok pencela tersebut dengan dalih; untuk memperbaiki mereka dari dalam, untuk mengambil alih pemerintahan dari dalam, untuk membayar hutang budi terlebih dahulu, supaya aman dsb, maka renungkanlah: Telah banyak yang mencoba sebelum antum, bahkan mereka lebih memiliki kapasitas dan kedudukan yang diterima oleh mereka, namun ujung-ujungnya dua:

  • Gagal, justru terfinah sebagai pemecah belah atau minimal rusaknya hati karena pergaulan.
  • Terhanyut oleh manhaj mereka, setelah merasakan fasilitas keamanan, ketentraman dan jabatan yang menipu lalu malahan menjadi orang yang paling keras memperjuangkan manhaj pencela ini. Inalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Tatkala kita tidak melihat seorangpun berkerja membangun
Disana kita melihat seribu orang penghancur bersiap

Ketika orang yang adil datang untuk mengarahkan mereka kepada kebenaran
sekonyong-konyong akan ditentang oleh seribu orang dholim

Aku melihat seribu bangunan tidak tegak karena satu penghancur
Lalu bagaimana dengan satu bangunan yang dibelakangnya bersiap seribu predator?

Ingat, tetap bersama jama'ah 'pencela' jihad, berarti antum termasuk thaifah mukhodzilah sekalipun antum tidak pernah mencela. Keberadaan antum disitu menunjukkan keridhaan antum kepada mereka. Allah berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (An-Nisa: 140)

Qurthubi berkata dalam Al-Jami' 5/418:  “Tentulah kamu serupa dengan mereka”, barangsiapa yang tidak menjauhi mereka maka dia dihukumi ridha dengan perbuatan mereka, dan ridha dengan kekafiran. Maka setiap orang yang duduk satu majlis maksiat dan dia tidak mengingkari, maka dia sama-sama menanggung dosa. Jika dia tidak mampu untuk mengingkari maka seharusnya dia pergi meninggalkan tempat tersebut supaya tidak digolongkan menjadi bagian dari mereka.

Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz akan mendera para peminum khamr, salah seorang dari mereka mengatakan, diantara kami ada yang berpuasa pada waktu itu. Maka Umar berkata: Deralah yang puasa dahulu, tidakkah kalian mendengar firman Allah: Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.

Syeikh Abu Bashir berkata:

فجعل حاضر المنكر كفاعله؛ لأن جلوسه معهم من غير إكراه ولا إنكار قرينة دالة على الرضى بحالهم وفعلهم، فعوقب بمثل ما عوقبوا به

Allah menempatkan orang yang menghadiri kemungkaran seperti pelakunya, karena duduk bersama mereka tanpa pengingkaran dan tanpa keterpaksaan merupakan qorinah (indikasi) yang menunjukkan keridhaan mengenai keadaan dan perbuatan mereka. Maka orang itu akan diiqab (dihukum) sama dengan pelakunya.

Tatkala Khalid bergerak dengan pasukannya menuju Yamamah untuk memerangi Nabi palsu Musailamah Al-Kadzab, Khalid menangkap Maja'ah seorang sahabat Nabi yang tinggal di negeri Yamamah. Maja'ah protes atas penangkapannya karena dia tidak ada sangkut pautnya dengan Musailamah dan dia mengingatkan Khalid bahwa dia telah berbaiat kepada Nabi saw dan masih setia sampai detik ini.

Khalid menampik alasan Maja'ah dengan menyatakan bahwa Maja'ah telah mendengar pergerakan pasukannya namun Maja'ah tetap berada di negeri Yamamah. Keberadaannya di Yamamah dan posisinya sebagai tokoh Yamamah menunjukkan ridhanya dia terhadap Musailamah. Kemudian setelah itu Maja'ah meminta maaf dan dimaafkan oleh Khalid.

Jadi, kita harus siap meninggalkan mereka semua, meninggalkan tawaran-tawaran dunia yang remeh, karena Allah dan rasul-Nya.

Kepada ikhwan-ikhwan yang segan meninggalkan mereka karena merasa sungkan dan hutang budi, karena merasa para ustadz pencela tersebut illa man rahimahullah telah mengangkat mereka dari kubangan lumpur, dari iqro sampai khatam Al-Qur'an, dari istri tidak memakai jilbab hingga bercadar. Simaklah firman Rabb yang telah memberi hidayah taufik kepada para hambanya:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا  يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). (Al-Furqan: 27-28)

Allah berfirman:

وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ ۖ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ

Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri". (Ash-Shafat: 21)

Dan firman Allah:
فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab karena dosa berserikat. (As-shafat: 33)

Barangsiapa yang menjadikan burung gagak sebagai penunjuk jalan
Ia akan menggiring pada segerombolan anjing

Allah berfirman mengenai guru yang menyesatkan:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya/pentadbirannya/kelakuannya itu menyelisihi al-haq. (Al-Kahfi: 28)

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan: Maka hendaklah seseorang itu meneliti pada syeikhnya, qudwahnya, dan pemimpinnya. Apabila dia mendapati mereka menyelisihi al-haq, maka jauhilah mereka.

Jangan engkau ambil ilmu kecuali dari yang layak
dengan ilmunya dia hidup dan dengan hartanya dia berkorban
Sedang orang-orang bodoh, jauhilah majlis-majlis mereka
Karena orang buta telah tersesat dari arahan petunjuknya

Syeikh Usamah dalam Taujihat Minhajiyah menasehati:

Sementara itu, para pemuda yang memiliki kemampuan untuk menjadi tumbal bagi agama ini dan memiliki kemampuan untuk berkorban demi agama ini amat disayangkan, mereka keliru dalam hal mendengar dan taat kepada para ulama Islam yang tidak berjihad (baca: Qa’iduun). Orang yang duduk-duduk saja, tidak layak didengar dan ditaati. Dari sinilah, kekuatan ini terus mandek. Para ulama tadi telah memalingkan mereka dari hal yang hukumnya wajib ‘ain kepada hal yang hukumnya fardhu kifayah.

Syeikh Abu Muhammad Al-Maqdisi berkata:

Maka dengarkanlah, semoga Alloh  menunjukkan kebenaran yang kami yakini kepadamu, dan tidak kami hiraukan celaan orang-orang yang mencela atau cercaan orang yang mencerca atau kedustaan yang dibuat-buat; yang benar adalah hendaknya mereka itu di hajr (dijauhi) tidak menuntut ilmu dari mereka dan tidak meminta fatwa kepada mereka sejak pertama. Karena ilmu ini, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf adalah; [… agama, maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian.] Bahkan kewajiban kita adalah menasehati mereka dan menjauhi mereka sampai mereka kapok, dan mereka tinggalkan menjilat pemerintah, cenderung kepada mereka dan membela mereka.

Kedua: Melengserkan, memecat dan menyingkirkan mereka kemudian mengangkat amir yang layak dengan program jihad yang nyata.

Karena keberadaan pencela inilah pembebasan Al-Quds dan Al-Haramain terhambat. Keberadaan mereka memecah konsentrasi mujahidin, memecah belah barisan al-jama'ah (baca: al-haq), merusak fikrah, tabiat dan moril mujahidin serta menggoyang keikhlasan mujahidin dalam beramal.

Membiarkan mereka artinya, membiarkan kaum muslimin terjebak kedalam ketidak jelasan dan kesesatan yang dalam, membiarkan potensi-potensi ummat menguap ditelan zaman, membiarkan kader-kader jihad beruban dan berpenyakitan sebelum potensi mereka digunakan, membiarkan ahlu jama'ah dan binaannya terjerat dengan bisnis-bisnis dunia yang sering kali melalaikan, membiarkan mereka enjoy dengan lamunan-lamunan jihad yang tak ada realitasnya, membiarkan ummat taat kepada perintah-perintah yang menyalahi syariat!

Ikhwan-ikhwan, para ummahat dan akhwat yang mukhlis harus diselamatkan dan dibebaskan, binaan-binaan serta thulab (santri) yang jujur wajib ditolong. Jangan biarkan bibit-bibit ummat diklaim kepemilikannya oleh sekelompok pencela, jangan biarkan bibit-bibit itu menjadi tanaman yang layu tak bermanfaat, jangan sampai gagal panen, jangan biarkan bibit-bibit itu diracuni pupuk kimiawi dan akhirnya menjadi racun dalam tubuh dikemudian hari. Kembalikan kepada Islam!

Abu Musa At-Thoyar -semoga Allah mentabahkannya-, salah seorang qoid tanzhim Al-Qo'idah di negeri Nusantara pernah berkata:

Karena itu, langkah yang harus ditempuh untuk mengoptimalkan potensi para pemuda Islam, diantaranya adalah membebaskan mereka dari belenggu-belenggu yang mengikat erat dan menumpulkan potensi mereka.

Para tokoh pencela, qiyadah yang melemahkan semangat, ustadz yang memelintir dengan menggunakan istilah-istilah syar'i, ikhwan-ikhwan yang turut menghalang-halangi jihad dengan ucapan, binaan mereka dan pendukung mereka wajib disingkirkan. Mereka sekali-kali tidak pantas menyandang ketokohan, kemas'ulan, keustadzan, keikhwanan dalam jihad. Mereka tidak layak memimpin sebuah jama'ah jihad, struktur jihad, dan tidak layak berbicara tentang jihad. Sungguh Islam akan rusak andai orang-orang seperti ini dipertahankan dan diharapkan. Pecat mereka, dan antum akan keheranan melihat watak asli mereka!

Mereka adalah pemasung dan pembelenggu, yang merampok kemerdekaan generasi Islam untuk mengamalkan diennya secara benar. Syeikh Usamah berpesan;

“Saya sampaikan kabar gembira kepada kalian. Atas karunia Allah umat Islam hari ini memiliki kekuatan sangat besar yang cukup untuk menyelamatkan Palestina dan menyelamatkan Negara-negara kaum muslimin lainnya. Akan tetapi kekuatan ini terpasung sehingga kita wajib berusaha membuka keterpasungan tersebut.

Para pembelenggu dan pemasung itu adalah BIAWAK seperti disebut oleh asy-syahid Abul Abbas Al-Janubi rahimahullah, kesatria perontok WTC. Beliau sebelumnya terbelenggu oleh pasungan jama'ah, kemudian alhamdulillah atas karunia Allah beliau mampu melepaskannya. Beliau berkata yang perkataan ini kemudian dinukil oleh Syeikh Usamah bin Ladin hafizhahullah dalam Taujihat Minhajiyah:

Maka manusia - terutama para anggota gerakan kebangkitan Islam ini - dalam diri mereka terdapat kebaikan besar dan kekuatan dahsyat, dan mereka siap untuk  berkorban, tetapi yang penting hendaknya dihilangkan dahulu dari mereka ‘biawak’ satu ini, hendaknya kepekatan ini dihilangkan dulu dari mereka.

Jika kehormatan seseorang tidak dinodai
Setiap dia memakai pakaian selalu indah
Jika seseorang tidak bangun memperhitungkan ketidakadilan
Dia tidak berhak mendapat pujian

Kerusakan mereka, ulama, qiyadah, asatidz sudah terlalu parah untuk diperbaiki, sebagaimana perkataan Syeikh Anwar Al-Awlaqi hafizhahullah:

Para ulama telah sesat (menyimpang), tak ada harapan lagi dalam diri mereka, besarnya koyakan terlalu besar untuk diperbaiki, penyimpangan mereka telah mencapai klimaksnya. Ini membuat peran ulama' pada hari ini begitu penting. Mereka (ulama) berkata, "Kami tetap diam supaya tidak merugikan tempat-tempat yang menguntungkan bagi kami dalam berdakwah".

Bebaskan belenggumu!!! Kita adalah orang-orang merdeka yang menghambakan diri kepada Allah ta'ala. Kita akan kesulitan bekerja beriqomatuddin selama tidak melengserkan kepemimpinan mereka. Maka solusi praktis  adalah:

“…..angkatlah untuk menjadi komandan (amir) kalian orang yang menegakkan kitabullah diantara kalian dan benar-benar mengangkat bendera jihad (bendera perang/amaliyat).” (Taujihat manhajiyah Vol 3. Syaikh Usamah).

Ya, pecat kemas’uliyatan mereka, kita tinggalkan mereka dan kemudian mengangkat seorang pemimpin baru yang benar-benar kokoh dalam menegakkan syariat dan benar-benar mengangkat bendera jihad, sekalipun para pencela merasa hasad dan dengki.

Apabila kita bersegera mengikuti saran Syeikh kita amir mujahidin Usamah bin Ladin, maka pemerintah murtad ini akan lebih cepat hancur dan terusirnya Amerika dari bumi Nusantara akan menyebabkan perekonomian mereka porak poranda karena mereka tidak dapat lagi merampok kekayaan alam kita, lalu melemahlah cengkraman Amerika di seluruh dunia yang telah goyah dan mereka tak mampu lagi membentengi Yahudi di Al-Quds, Haramain dan Singapura:

Oleh karena itu saya menyerukan kepada semua gerakan Islam (jama'ah islam) agar mereka memecat qiyaadah (pemimpin) mereka yang cenderung kepada orang-orang dholim kemudian mengangkat qiyaadah (pemimpin) yang kuat dan dapat dipercaya, yang melaksanakan kewajibannya dalam kondisi yang kritis ini, untuk membela umat Islam. (Usamah bin Ladin)

Kita angkat pemimpin yang jujur sebagai qoidah sholabah (personal inti yang berkepribadian kokoh dan solid sehingga layak untuk memikul beban perjuangan), sekalipun dia bukan alumni kadet (akademi militer), bukan alumni Mahad Aly, bukan dari jama'ah kita, tapi pemimpin yang menyabet gelar Letnan dari hasil benarnya amal dan pengalaman, terbukti jihadnya, terbukti ketegarannya, terbukti ketabahannya, terbukti amaliyahnya, terbukti tauhidnya dari jama'ah manapun dia tertarbiyah bukan semata-mata Letnan hasil pelantikan kelulusan dauroh askari.

Pemimpin yang jujur itu mesti terdapat dua ciri; dia beriman dengan sebenar-benar iman dan berjihad fisabilillah seperti dalam ayat:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah mereka yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya kemudian tidak merasa ragu serta berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa mereka, merekalah orang-orang yang jujur.” (Al-Hujurot: 15)

Syeikh Abu Mus'ab As-Suri –semoga Allah mentabahkannya- berkata dalam Dakwah Al-Muqowamah:

Proses teori amal jihadi tidak lahir dari kepala para penulis dan pemikir yang duduk manis di dalam kantor yang elegan, tidak pula melalui gaya hidup yang nyaman, tidak muncul dari anggota puncak gerakan dari organisasi bersistem piramida. Tapi teori ini lahir dari parit-parit pertempuran (qital), lapangan-lapangan i'dad dan ujian. Teori yang keluar dengan pembiayaan pribadi yang mahal dan membuat mereka membayar harga untuk setiap kesalahan dan pengalaman dengan darah dan penderitaan. Kemudian dia akan meraba-raba langkah tepat selanjutnya yang berasal dari langkah-langkah yang benar.

Wahai para pencela, silahkan anda mundur dengan suka rela sebelum kalian diinjak oleh derap langkah para tentara Usamah yang perwira. Tampakkanlah sakit hati kalian, karena kami telah memperingatkan.

Sejatinya program-program kelompok pencela tersebut itu berjalan mundur, bukan jalan ditempat. Kualitas moril dan etos kerja perjuangan mereka telah mencapai titik nadir yang terendah. Mereka tampak sibuk kesana kemari, kunjungan daerah dengan naik pesawat bolak balik. Laporan-laporan dan laporan yang tak sesuai dengan lapangan.

Organisasi, koordinasi, reorganisasi, kontrol (evaluasi, komunikasi dan pengendalian) dan administrasi mereka amburadul. Dari luar tampak rapi namun bagi siapa saja yang pernah didalam, memahami ilmu manajemen dan melihat dari ketinggian tidak akan sangsi. Banyak tanazu, mudah mencurigai ikhwan lainnya, ghibah. Lemah...sekarat... sebagaimana yang sering mereka akui, “kita dhoif”.

Beberapa ketua yayasan tidak tahu apa program sesungguhnya yayasan, dia tidak dapat memutuskan dan menentukan, karena dia hanya layang-layang. Bendahara, sekretaris, qismu dakwah, qismu tarbiyah, kepala sekolah, struktur itu hanya pajangan untuk pantas-pantasan. Tidak ada laporan pemasukan dan pengeluaran keuangan, padahal hanya untuk urusan dakwah wa tarbiyah. Banyak dana-dana yang hilang tidak jelas, karena tidak ada catatan maka tidak bisa diaudit. Bila ada yang mengkritisi, Qoid itu bilang, inilah sistem kami, inilah tata kerja tanzhim sirri, antum tidak berhak tahu, rahasia. Qoid-qoid bawah tidak berani memutuskan kecuali konsultasi dengan atasan karena takut disalahkan. Sistem kerja yang terbukti buruk kok dipertahankan.

Tidak ada program askariyah yang diseriusi, mereka justru main-main!… Sebagaimana yang diakui oleh seorang qoidah tinggi sebuah jama’ah jihad, “Saya tidak mengerti, mengapa program askariyah lamban”. Jawabannya ternyata ditemukan pada pernyataan seorang pengawal amir, “Kita sekarang konsentrasi pada ekonomi!????”.

Benar kata Commander Abu Tholut Al-Jawy, mantan dewan markaziyah jama’ah tersebut – semoga Allah mentabahkannya dengan ketabahan yang besar -, “Tidak ada program real kearah perlawanan askariyah”.

Seseorang menanamkan kepada para binaan bahwa dia adalah qoid, memaksa para binaan untuk mentaatinya padahal tidak ada akad antara keduanya kecuali hanya posisi guru dan murid, muroby dan binaan. Inilah organisasi jama'ah militer yang aneh...

Halaqah-halaqah taklim sudah bosan, bosan dengan kejumudan dan keterbelengguan. Bosan dengan tugas-tugas pencarian dana tarbiyah yang tidak ada laporannya. Bosan dengan tipuan-tipuan. Bosan dengan perdebatan-perdebatan administratif, bosan mendengar celaan-celaan. Bosan dengan materi taklim itu-itu saja, minal dakwah wat tarbiyah wat tazkiyatun nufus wal fulus.

Bosan dengan undangan pesta-pesta aqiqah dan walimah, seolah-olah menghadirinya lebih penting dari pada menyusun tindakan pembelaan kepada Syeikh Abu Bakar Ba'asyir dan Putri Munawarah  yang terzhalimi (kini istri Ust. Umar Patek, Ruqoyah yang kembali ditawan -edt).

Kemarin mereka menelantarkan kaum laki-laki, hari ini menelantarkan kaum wanita. (Syeikh Anwar Al-Awlaqi)

Seolah-olah tidak menghadirinya adalah dosa besar, al-kabair, maksiat dan tidak taat. Ditakut-takuti, diikuti, diselidiki, ditekan... Mereka berkata; “Menghadiri walimah bertujuan untuk dakwah”, “Ada maslahat jama'ah didalamnya”. Bohong, sungguh mereka bohong dan dholim... Mana kemajuan progres dakwah pasca walimah? Tipuan klasik...

Bagaimana tetap tinggal diam, dan bagaimana hati seorang muslim tetap tenang
sedang kaum muslimat bersama musuh yang kejam

Lihatlah, berapa juta rupiah dikeluarkan hanya untuk akomodasi walimah dan pesta-pesta sunnah lainya, sedang disamping kita ada ummahat istri komandan mujahid yang tertawan, terpaksa berjualan herbal di dalam masjid disaat pengajian rutin internal keluarga jama'ah jihad. Sudah matikah hati kita? Sudah butakah mata kita? Sudah sedemikian kroniskah ketidakpedulian kita? Ini hanya satu contoh kecil yang diungkap.

Mengapa ada tekanan-tekanan pada acara-acara berbau taklim wa dakwah wa tarbiyah wa jama'ah wa aqiqah wa walimah, sampai yang tidak hadir di sms, di telpon, dijuluki tidak taat, futur, didatangi, diselidiki... Mengapa pidana ini tidak diterapkan kepada yang enggan menyantuni keluarga para mujahid? Yang enggan silaturahmi kepada keluarga mujahid? Yang enggan tadrib, yang enggan jihad, yang enggan menampung muhajir, yang enggan infaq fisabilillah... Lahaula wala quwata illa billah...

Syeikh Usamah berkata:

Para ulama tadi telah memalingkan mereka dari hal yang hukumnya wajib ‘ain kepada hal yang hukumnya fardhu kifayah.

Ya syeikh, anta shohih; para qiyadah tadi telah memalingkan ahlu jama'ah dari jihad kepada taklim, dari i'dad kepada walimah, dari menyantuni keluarga mujahid kepada aqiqah, dari infak fisabilillah kepada infak untuk masjid dan madrasah, dari fa'i kepada proposal dana dari pemerintah murtad ...dengan dalih melaksanakan manhaj jama’ah; membangun kekuatan kearah kemampuan penguasaan wilayah. Strategi yang indah dengan metodologi yang aneh.

Syeikh Anwar Al-Awlaqi menambahkan:

Apakah melestarikan sebuah universitas, atau program tv lebih penting daripada berdiri untuk menyuarakan kebenaran dan menjaga mashlahat-mashlahat besar umat? Apakah lebih penting daripada melindungi umat dari proyek imperialis/kolonial Amerika?

Ikhwan-ikhwan bosan dengan rutinitas itu-itu saja. Bosan dengan janji-janji palsu tadrib dan latihan bongkar pasang. Bosan dengan rayuan-rayuan “sabar...sabar...dan sabar...”.

Antum yang telah tugas dipesantren selama 9 sampai 16 tahun, sampai kapan antum akan lepas dari belenggu mengatas namakan ketaatan pada jama'ah? Sedang keahlian askariyah dimandulkan. Padahal Libya, Tunisia, Mesir, Al-Jazair, Palestina dan Yaman tengah bergolak. Padahal Aceh, Medan, Bekasi, Temanggung, Kaltim, Papua, Manado, Buol tengah mendidih. Padahal Afghanistan, Pakistan, Dagestan, Mindanau, Somalia, Yaman, Mali dan Iraq telah tegak pemerintah Islam. Allahu Akbar... Allahu Akbar....

Hari ini kaum muslimin sedang melalui masa-masa yang kritis dan penting dalam sejarah, dan tidak akan selamat pada waktu ini kecuali orang-orang yang mempunyai kejujuran dan keberanian, pengorbanan, dan pengalaman dalam berpolitik serta kemiliteran. (Anwar Al-Awlaqi)

Jika memang program pesantren jujur untuk jihad, maka minimal alumni-alumninya akan segera bertebaran membantu kaum muslimin menangani konflik dari Aceh, Buol sampai Papua dan Timor Timur, dengan kepiawaian dakwah wa askariyah. Bukan hanya bertebaran kesana kemari dengan buku, atau malahan bertebaran di kampus-kampus hingga berambut gondrong dan berjeans, kemudian hilang dilalap “polusi keilmiahan.”

Secara teori, andai setiap tahun pondok-pondok meluluskan total 100 santri saja, maka 100 lahan dakwah akan tergarap. Bila seorang alumni mencetak 3 pemuda saja sebagai sel jihad dalam kurun satu tahun, akan muncul 300 sel jihad yang berbarakah diseluruh Indonesia yang siap mempercepat penyelamatan Palestina. Faktanya? Ada kesalahan dalam manhaj dan koordinasi, yang tidak akan mampu diperbaiki kecuali dengan manhaj jihad yang benar.

Tangisan membuat matamu kering dari air mata
Maka pinjamlah mata orang lain yang air matanya memancar deras
Siapakah orang yang akan meminjamimu mata untuk kau pakai menangis?
Menurutmu, adakah mata yang dipinjamkan untuk menangis?

Atas ijin Allah, mujahidin akan menggantinya dengan program-program yang lebih baik, rapi, teratur dan berkah. Lihatlah amaliyah dari Bali I sampai Cirebon, program-program efektif yang berbarakah. Lihatlah mereka-mereka yang tegar diatas beratnya ujian. Lihatlah para kafilah syuhada memperlihatkan senyumannya yang teramat indah karena mereka telah menang. Lihatlah para ummahat mujahid yang sabar dan teguh serta terus mentahrid para mujahidin (jazakumullah khairan). Lihatlah ternyata Aceh dapat dikondisikan sebagai tempat menjalankan program Diklat dan tajnid. Logikanya jika Aceh bisa, maka tempat-tempat lainnya pun bisa. Bumi Indonesia ini terlalu luas ya akhi...

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ

Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi”. (An-Naml: 69)

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjelajahi jalan-jalan yang luas di bumi itu". (Nuh: 19-20)

Jika Diklat Aceh tutup, maka sebelumnya Hudaybiyah pun telah tutup, kemudian muncul Poso dan Ambon I dan seterusnya tak kan berhenti. Diklat, tajnid dan tajhiz akan terus berjalan atas ijin Allah dan kehendaknya, sekalipun para pencela iri hatinya. Jika jama'ah jihad itu tak mampu melaksanakan program jihadnya, maka pemuda-pemuda Al-Qo’idah di negeri Nusantara sebenarnya telah mengambil alih dengan suka ria. Takbir!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar